PCM Baner

Download GRATIS PDF dan 3 Video Kaya dari Properti TANPA MODAL

Cari

Translate

Monday, November 23, 2009

TERIMA KASIH ANDA TELAH BERGABUNG

Assalamu'alaykum wR wB,

Atas nama Komunitas Cerdas Finansial Madani (KCFM) ini kami ingin menyampaikan TERIMA KASIH kepada Anda yang telah bergabung. Sebelumnya kami juga ingin menyampaikan permohonan MAAF karena KCFM ini kurang begitu aktif.

Namun demikian dengan melihat perkembangan jumlah anggota yang kini sudah 104 neter sejak dibentuknya KCFM pada tanggal 1 Januari 2008, rasanya sudah perlu bagi kami menyampaikan beberapa rencana kedepan (VISI & MISI) dari KCFM ini. Sehingga KCFM bisa memberikan kontribusi yang berarti kepada anggota komunitas pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.

VISI

KCFM adalah komunitas pembelajaran baik secara keilmuan dan praktisi atas pengalaman yang telah terbukti dan teruji berdasarkan Al Quran dan Sunah Rasulullah Muhammad SAW sehingga memberikan kontribusi atas kesejahteraan finansial bagi anggota komunitas pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya untuk dapat meraih kebahagian di dunia dan akhirat.

MISI

  1. Bersama-sama meningkatkan pengetahuan dan pengalaman finansial anggota komunitas dan masyarakat luas sesuai dengan Al Quran dan Sunnah Rasulullah Muhammad SAW sebagai implementasi firman Allah SWT dalam Al Quran surah Al Asr ayat 1-3 "Demi masa, sesungguhnya manusia selalu dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh, yaitu saling nasehat menasehati dalam melakukan kebenaran dan saling nasehat menasehati dalam menetapkan kesabaran".
  2. Menjadi sarana bertukar informasi, ide, saran dan kritik dalam dunia finansial dan investasi baik yang konvensional maupun yang syariah sehingga menjadi sumber ilmu bagi anggota komunitas dan masyarakat untuk mengetahui perbedaan mana yang halal dan toyib dengan yang haram lagi batil.
  3. Memiliki wadah berupa yayasan non profit untuk mengumpulkan dana dari anggota komunitas dan masyarakat luas sebagai zakat, infaq, sodaqoh, wakaf, hibah dan donasi yang tidak mengikat untuk disalurkan kepada mereka yang berhak sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW.
  4. Memprakarsai dan mendukung pendirian BMT/Koperasi Syariah/Asuransi Takaful KCFM sebagai sarana bersama untuk saling membantu memperbaiki dan meningkatkan kondisi kesejahteraan finansial anggota komunitas dan masyarakat luas.
  5. Mendirikan dan memiliki badan usaha manajemen investasi untuk mengelola dana investasi dari anggota komunitas dan masyarakat luas sehingga dapat membantu anggota komunitas dan masyarakat luas mencapai tujuan-tujuan dari rencana finansialnya.
Demikian yang dapat kami sampaikan, besar harapan kami semoga KCFM ini bertambah aktif dan bertambah anggotanya.

Kami menghimbau kepada anggota komunitas untuk turut serta aktif mengundang anggota baru dan memberikan kontribusi baik berupa artikel dan tanggapan serta kitik saran sehingga KCFM ini bertambah hidup dan bermanfaat.
Jazakum Allah khair,
Ila liqo, billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu'alaykum WR WB,

Maulana Pribadi, SE

Qurban Terbaik

Qurban Terbaik

Bismillah

Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat berjualan hewan Qurban. Saat pintu mobil kubuka, bau tak sedap memenuhi rongga hidungku, dengan spontan aku menutupnya dengan saputangan.

Suasana di tempat itu sangat ramai, dari para penjual yang hanya bersarung hingga ibu-ibu berkerudung Majelis Taklim, tidak terkecuali anak-anak yang ikut menemani orang tuanya melihat hewan yang akan di-Qurban-kan pada Idul Adha nanti, sebuah pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak sejak dini tentang pengorbanan NabiAllah Ibrahim & Nabi Ismail.
Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang bertransaksi memilih hewan yang akan di sembelih saat Qurban nanti. Mataku tertuju pada seekor kambing coklat bertanduk panjang, ukuran badannya besar melebihi kambing-kambing di sekitarnya.

" Berapa harga kambing yang itu pak?" ujarku menunjuk kambing coklat tersebut.

" Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega Super dua juta rupiah tidak kurang" kata si pedagang berpromosi matanya berkeliling sambil tetap melayani calon pembeli lainnya.

" Tidak bisa turun pak?" kataku mencoba bernegosiasi.

" Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba mahal" si pedagang bertahan.

" Satu juta lima ratus ribu ya?" aku melakukan penawaran pertama
" Maaf pak, masih jauh. " ujarnya cuek.
Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan penawaran terendah berharap si pedagang berubah pendirian dengan menurunkan harganya.

" Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima puluh ribu?" kataku

" Masih belum nutup pak " ujarnya tetap cuek

" Yang sedang mahal kan harga minyak pak. Kenapa kambing ikut naik?" ujarku berdalih mencoba melakukan penawaran termurah.

" Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi dia gak bisa datang ke sini sendiri. Tetap saja harus di angkut mobil pak, dan mobil bahan bakarnya bukan rumput, " kata si pedagang meledek.

Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini. Tidak menawarkan harga selain yang sudah di kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku alihkan ke kambing lainnya yang lebih kecil dari si coklat. Lumayan bila ada perbedaan harga lima ratus ribu.

Kebetulan dari tempat penjual kambing ini, aku berencana ke toko ban mobil. Mengganti ban belakang yang sudah mulai terlihat halus tusirannya. Kelebihan tersebut bisa untuk menambah budget ban yang harganya kini selangit.

" Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?" kataku kemudian

" Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah" katanya
Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang kakek menanyakan harga kambing coklat Mega Super tadi. Meskipun pakaian "korpri" yang ia kenakan lusuh, tetapi wajahnya masih terlihat segar.

" Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?" katanya kagum.

" Dua juta tidak kurang tidak lebih kek. " kata si pedagang setengah malas menjawab setelah melihat penampilan si kakek.

" Weleh larang temen regane (mahal benar harganya)?" kata si kakek dalam bahasa Jamblang Cerbonan " bisa di tawar-kan ya mas?" lanjutnya mencoba negosiasi juga.

" Cari kambing yang lain aja kek. " si pedagang terlihat semakin malas meladeni.

" Bli usah (tidak) mas. Isun arep sing bagus lan gagah Qurban taun kiyen (Aku mau yang terbaik dan gagah untuk Qurban tahun ini) Duit-e (uangnya) cukup kanggo (untuk) mbayar koq mas. " katanya tetap bersemangat seraya mengeluarkan bungkusan dari saku celananya. Bungkusan dari kain perca yang juga sudah lusuh itu di bukanya, enam belas lembar uang seratus ribuan dan sembilan lembar uang lima puluh ribuan dikeluarkan dari dalamnya.

" Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya) dianter ke rumah ya mas?" lanjutnya mantap tetapi tetap bersahaja.
Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang memperhatikannya sejak tadi. Dengan wajah masih ragu tidak percaya si pedagang menerima uang yang disodorkan si kakek, kemudian di hitungnya perlahan lembar demi lembar uang itu.

" Kek, ini ada lebih lima puluh ribu rupiah" si pedagang mengeluarkan selembar lima puluh ribuan

" Langka ongkos kirime tah...?" (Enggak ada ongkos kirimnya ya?) si kakek seakan tahu uang yang diberikannya berlebih

" Dua juta sudah termasuk ongkos kirim" si pedagang yang cukup jujur memberikan lima puluh ribu ke kakek " mau di antar ke mana mbah?" (tiba-tiba panggilan kakek berubah menjadi mbah)

" Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu bisa di tabung maning (bisa ditabung lagi)" kata si kakek sambil menerimanya " tulung anternang ning desa arep ya (tolong antar ke desa dekat itu ya), lamun wis teka ning burie (sesampainya di belakang) Masjid Nurul
Falah, takon bae umae (tanya saja rumahnya) mbah Sutrimo pensiunan pegawe Pemda Cerbon, InsyaAllah bocah-bocah podo weru (InsyaAllah anak-anak sudah tahu). "

Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang telah di sepakatinya, si kakek berjalan ke arah sebuah sepeda tua yang di sandarkan pada sebatang pohon pisang, tidak jauh dari X-Trail milikku. Perlahan diangkat dari sandaran, kemudian dengan sigap di kayuhnya tetap dengan semangat.

Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu, semuanya berbalik ke arah berlawanan dalam pandanganku. Kakek tua pensiunan pegawai Pemda yang hanya berkendara sepeda engkol, sanggup membeli hewan Qurban yang terbaik untuk dirinya.

Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang diterima setiap bulan oleh si kakek. Yang aku tahu, di sekitar masjid Nurul Falah tidak ada rumah yang berdiri dengan mewah, rata-rata penduduk sekitar desa Sutawinangun blok Masjid hanya petani dan para pensiunan pegawai rendahan. Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding penghasilanku sebagai Manajer perusahaan swasta asing.

Yang sanggup membeli rumah di kawasan cukup bergengsi Yang sanggup membeli kendaraan roda empat yang harga ban-nya saja cukup membeli seekor kambing Mega Super. Yang sanggup mempunyai hobby berkendara moge (motor gede) dan memilikinya Yang sanggup mengkoleksi raket hanya untuk olah-raga seminggu sekali Yang sanggup juga membeli hewan Qurban dua ekor sapi sekaligus.

Tapi apa yang aku pikirkan? Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang jauh di bawah kemampuanku yang harganya tidak lebih dari service rutin mobil X-Trail, kendaraanku di dunia fana. Sementara untuk kendaraanku di akhirat kelak, aku berpikir seribu kali saat membelinya.

Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati manusia balikkan hati hambaMu yang tak pernah berSyukur ini ke arah orang yang pandai menSyukuri nikmatMu

Cirebon, 23 Nov 2009


Menjelang Hari Raya Qurban

Catatan Ahmad Tohari Menjelang Hari Raya Kurban

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami.
Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang
kini sudah berakhir. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka
rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri.

Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik
sendiri. Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak
menikah. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai
pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang
terusmeningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga.

Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan
gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangatrenta. Gubuk itu
didirikan di atas tanah tetangga yang bersediamenampung anak dan emak
yang sangat miskin itu.Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin
mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para
santri yangsedang mondok di pesantren kampung kami.

Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia
bisa hidup bertahun-tahun. Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya
sudah mengira pasti diamau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya.
Semiskin itu Yu Timah masihbisa menabung di bank perkreditan rakyat
syariah di mana saya ikutjadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau
datang ke kantor.Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf.
Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan.

Namun setelah menjadi penerima SLTYu Timah bisa setor tabungan hingga Rp
250 ribu. Dan Saldo terakhir YuTimah adalah Rp 650 ribu. Yu Timah biasa
duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di
lantai, namun selalu saya cegah. "Pak, saya mau mengambil tabungan,"
kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil. "O, tentu bisa. Tapi ini hari
Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup.

Bagaimana bila Senin?" "Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak buru-buru."
"Mau ambil berapa?" tanya saya."Enam ratus ribu, Pak." "Kok banyak
sekali. Untuk apa, Yu?" Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil
tersenyum malu-malu. "Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam
ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk
beli satu kambing." Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya.
Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama
tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan
memberikan uang tabungannya.

Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah
membeli kambing kurban. "Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan
diberikan sebesar enam ratusribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib
berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara
kita yang lebih berada.Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah
bulat hendak membelikambing kurban?" "Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya
benar-benar ingin berkurban. Selama ini memang saya hanya jadi penerima.

Namun sekarang saya ingin jadipemberi daging kurban." "Baik, Yu. Besok
uang kamu akan saya ambilkan di bank kita. "Wajah Yu Timah benderang.
Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan
langkah-langkah panjang Yu Timah pulang. Setelah Yu Timah pergi, saya
termangu sendiri.

Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu
menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Kanjeng Nabi
Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan
demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya?
Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu
tidak mengubah watak orangnya.

Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum
naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang
yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan
makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan
kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging
kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging
kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur
sebelum kamu naik haji.

 

 


Sunday, October 25, 2009

“SATANIC FINANCE – TRUE CONSPIRACIES” (A. RIAWAN AMIN)

BAGI MEREKA YANG SUDAH MEMBACA BUKU "SATANIC FINANCE – TRUE CONSPIRACIES" (A. RIAWAN AMIN)


Assalamu'alaykum wa Rohmatullohi wa Barokatuhu

Alhamdulillahi Robbil'aalamiin wa solatu wa salamu 'ala asrofil anbiyai wal mursalin nabiyina wa rasulina Muhammad wa 'ala alihi wa sohbihi wa 'ajma'in.

Akhikumfillah,

Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Ustz. A. Riawan Amin dalam bukunya "Satanic Finance – True Cosnpiracies" kami mencoba memberikan himbauan kepada antum semua untuk memulai langkah-langkah berikut:

  1. FIAT MONEY (US DOLLAR) – Mulailah mengumpulkan emas/perak sebagai simpanan/investasi antum semua. Baik berupa emas/perak batangan 5gr – 10gr – 100gr – 1kg atau koin emas/perak sertifikat ANTAM. Penuhilah deposit box bank-bank yang ada dengan emas/perak. Sehingga jika semakin banyak yang menyimpan emas/perak maka bank-bank yang ada akan membuka rekening tabungan/deposito emas/perak. Hal ini akan memungkinkan dikeluarkannya kartu debit/kredit dengan menggunakan emas/perak sebagai pembayaran transaksi. Sehingga penggunaan uang kertas (Fiat Money) akan semakin berkurang. Begitu pula untuk pembayaran ekspor-impor sebaiknya mulai menggunakan emas/perak atau barter komoditas yang diperlukan. Misalkan ekspor komoditas dari Indonesia ke negara-negara Timur Tengah dibayar dengan Minyak Mentah (Crude Oil). Sehingga mengurangi pemakaian USD.
  2. FRACTIONAL RESERVE REQUIREMENT – Mulailah berutang/meminjam uang dari bank untuk hal-hal yang produktif bukan yang konsumtif. Misalkan untuk modal usaha, pembelian angkot/taxi/bus, pembelian mesin-mesin produksi, pembelian/pembangunan/renovasi rumah kos2an atau apartemen untuk disewakan atau ruko/rukan/gudang/pabrik bahkan lahan  pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan. Sehingga margin/bagi hasil yang disepakati dapat dibayar oleh sisa hasil usaha. Selain itu hasil produksi akan mengimbangi jumlah uang beredar dan mengurangi tinkat inflasi. Seandainya hasil produksi yang berlimpah dapat diekspor untuk menghasilkan devisa sehingga utang luar negeri dapat segera dilunasi bahkan Bangsa Indonesia bisa memberikan utang luar negeri kepada negara lain.
  3. INTEREST/BUNGA BANK – Mulailah melakukan transaksi keuangan dan bisnis sesuai dengan syariah Islam (Al Qur'an, Sunah dan Fiqh). Kini sudah banyak bank-bank syariah, perusahaan asuransi syariah dan perusahaan2 publik yang memenuhi syarat-syarat syariah Islam. Sehingga memudahkan kita untuk membuka tabungan/deposito membeli produk-produk asuransi dan investasi yang sesuai dengan syariah Islam. Tentunya tidak ada lagi yang namanya Interest/Bunga Bank (RIBA). Harapan kami 10 tahun yang akan datang (tahun 2020) bank-bank konvensional hanya satu atau dua saja bahkan tidak ada (jika memungkinkan) di bumi Indonesia. Sehingga kita semua akan terbebas dari transaksi keuangan ribawi yang hanya memberikan kemudharatan baik di dunia dan akhirat.

Demikian yang dapat kami sampaikan sebagai himbauan. Semoga berkenan dan bermanfaat. Apabila ada kata yang salah dan menyinggung perasaan kami mohon maaf kepada antum semua.
Jazakum Allah khair,
Ila liqo, billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu'alaykum WR WB,

Maulana Pribadi, SE

Saturday, August 15, 2009

BERBAGI WAKTU DENGAN BUAH HATI

BERBAGI WAKTU DENGAN BUAH HATI
Maulana Pribadi  – 15 Agustus 2009 – Jeddah – Arab Saudi

Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaha illa Allah, Allahu Akbar,

Hanya kalimat tasbih, tahmid, tahlil dan takbir yang dapat kami ucapkan ketika merasakan kenikmatan yang melibihi nikmatnya ketika menerima kabar uang gajian hasil kerja sebulan telah masuk ke rekening bank. Kenikmatan yang melebihi ketika mendengar kabar usaha-usaha kami di Indonesia mendapatkan orderan, bertumbuh dan berkembang.

Monday, July 06, 2009

WACANA GAJI BAGI PELAJAR DAN MAHASISWA

WACANA GAJI BAGI PELAJAR DAN MAHASISWA

Assalamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuhu,

Alhamdulillahhirobbil'alamiin

Wasolatu wasalamu 'ala Rasulillah wa 'ala alihi wa sohbihi wa ajmain

Bapak/Ibu/Saudara(i) yang dirahmati Allah SWT…

Perkenankan kami menyampaikan sebuah wacana untuk menjadi bahan renungan dan diskusi. Insha Allah wacana ini nantinya bisa terwujud dan terlaksana.

Apabila kita membaca KTP atau beberapa formulir isian, maka akan dijumpai kolom PEKERJAAN. Biasanya bagi anak-anak usia sekolah atau kuliah maka kolom itu akan diisi dengan PELAJAR atau MAHASISWA. Tetapi yang cukup menggelitik adalah kalau mereka bekerja sebagai PELAJAR atau MAHASISWA mengapa mereka tidak mendapat GAJI? Bahkan mereka (orang tuanya) harus mengeluarkan biaya yang "cukup besar" untuk pekerjaan sebagai PELAJAR atau MAHASISWA tersebut.